Banyak sekali manifestasi konflik dan perang, seperti: konflik sastra dalam sastra Arab, konflik sastra kuno Hadis dalam puisi Arab. Konflik secara umum adalah fenomena sosial yang mencerminkan keadaan ketidaknyamanan psikologis atau stres yang disebabkan oleh ketidakcocokan dua atau lebih keinginan atau pertentangan dari satu atau lebih keinginan. Konflik dalam sastra adalah konflik antara teks sastra dan persepsi masalah budaya.
Jika syair berasal dari pengalaman manusia, maka itu adalah cara yang terbaik dan efektif untuk menggugah jiwa, emosi, dan perasaan dalam lingkungan penyair, karena melalui syair kehidupan sehari-hari, sosial, politik, bahkan konflik dan perang dimanifestasikam. Dalam hal ini banyak sekali penyair-penyair yang melakukan kritik melalui syairnya menggunakan bahasa sebagai sistem simbol yang disampaikan kepada masyarakat dan media massa. Tentu saja syair-syair mereka banyak mengangkat tentang nasionalisme ditengah konflik dan perang.
Jika syair tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari, maka hanya butuh sedikit waktu untuk menggugah jiwa yang membaca dan mendengar, karena syair memiliki kekuatan ekspresi artistik.
Puisi sebagai fenomena kesusastraan yang selalu berubah, yang secara bertahap semakin rumit seiring kerumitan kehidupan manusia dalam arti makna dan dimensi luas dan dalam. Ketika dimensi peradaban manusia melebar dan citranya berkembang, kontennya juga harus meluas dan memanjang, dan dengan demikian puisi itu berkembang lebih dari satu tujuan jika dikaji dan dianalisis serta difoto, dan kemudian muncul inovasi dalam konten dan bentuk. Meskipun ada beberapa model puisi lama dalam sastra kontemporer, citranya berbeda secara radikal dan telah menjadi komitmen terhadap sastra kontemporer berasal dari kerangka budaya modern, kerangka intelektual, kerangka sosial dan kerangka politik.
Banyak sekali keadaan yang menyadarkan para penyair dan menyebabkan munculnya puisi Arab kontemporer, diantaranaya;
1. Posisi konfrontasi yang menunjukkan kesadaran penyair bahwa dia memiliki kehidupan, karyanya merupakan bagian yang efektif dari struktur kehidupan ini, bukan sekedar aksesori yang ditambahkan dalm kehidupan.
2. Posisi keterasingan adalah posisi konotasi intelektual yang telah mendefinisikan dimensi dari posisi ini, sehingga penyair menyerap semua warna penderitaan, yang terserap dari realitas.
3. Posisi berkuda adalah posisi etis, dalam hal ini tidak menggunakan senjata melainkan menggunakan doktrin kesatria yang tidak bisa dilakukan secara individual melainkan harus berkelompok.
4. Posisi pemberontakan, dalam puisi Arab kontemporer terdapat tiga jenis; pemberontakan (menjauhkan manusia dan gagasan apapun, terutama pada perguruan tinggi yang terpisah dari setiap realitas historis. Hal ini diwakili dengan munculnya syair-syair Arab kontemporer seperti ketidak adilan dan keadilan sosial), pemberontakan metafisik, memberontak, dan pemberontakan revolusioner.
5. Posisi sufisme. Dalam posisi ini, penyair ingin mnggapai misisnya dengan logikanya sendiri, dan ingin menghidupkan kembali esensi manusia pada manusia, dan ingin mengembalikan esensi manusia pada manusia untuk membentuk kelompok masyarakat yang sehat dimana setiap individu dijamin martabatnya dalam kelompok masyarakat tersebut.
Dewasa ini muncul fenomena puisi Arab seperti halnya di Suriah yang banyak bermunculan puisi tentang perlawanan dan revolusi, seperti di wilayah pendudukan, ada penyair perlawanan terkenal bernama Omar AbuRisha, yang masih mengajar generasi-generasi dari tanah kelahirannya bahwa seni mengimbangi kehidupan dan menyerapnya, dan kapan dia mengatakan tentang cinta, cinta bukan hanya tanah air, dia manusia dan manusia, dan dia menulisnya dalam puisinya. . Inilah yang kemudian mempengaruhi kemunculan penyair atau sastrawan di Timur Tengah, yang pada realitasnya dikarenakan konflik dan peperangan yang sangat panjang dan rumit.
@adab_asy_sya'bi
Sumber: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub/article/view/5588
Tidak ada komentar:
Posting Komentar